LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK 1
KALIBRASI TERMOMETER DAN PENENTUAN TITIK LELEH
DIBUAT OLEH : SEPTIA MISCA DALVANNY
NIM: A1C118005
KELAS : REGULER A
2018
DOSEN PENGAMPU
Dr.Drs. SYAMSURIZAL,
M,Si
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN
MATEMATIKA DAN PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
JAMBI
2020
VIII TUJUAN PENGAMATAN
ADAPUN TUJUAN
DALAM PRAKTIKUM INI ADALAH:
- Praktikan diharapkan dapat memahami prinsip prinsip
dasar dalam penentuan titik leleh senyawa murni.
- Praktikan diharapkan dapat melakukan kalibrasi termometer
sebelum digunakan untuk penentuan titik leleh suatu senyawa murni.
- Praktikan diharapkan dapat membedakan titik leleh suatu
senyawa murni dengan senyawa yang tidak murni.
- Praktikan diharapkan dapat melakukan penentuan titik leleh
suatu senyawa murni yang diberikan sebagai sampel.
IX MANFAAT
- Dengan dilakukannya praktikum ini dapat menambah pengetahuan tentang titik leleh suatu senyawa
- Dengan dilakukannya praktikum ini dapat memahami cara menggunakan alat MPA (melting point apparatus)
- Dengan dilakukannya praktikum ini dapat memahami cara pengkalibrasian termometer dengan baik dan benar
X PROSEDUR
https://septiamisca2000.blogspot.com/2020/02/v-behaviorurldefaultvmlo.html
XI DATA PENGAMATAN
11.1 Kalibrasi termometer
No
|
perlakuan
|
Hasil
|
1
|
Dimasukkan termometer kedalam labu elemeyer yang
telah diisi dengan air dan serbuk batu es yang mana labu elemeyer telah
disumbat terlebih dahulu dengan penyumbat agar terisolasi
|
Skala termometer turun hingga 0 serajat
|
2
|
Aquades dimasukkan kedalam labu elemeyer yang
telah disumbat lalu dipanaskan
|
Suhu awal 95◦C hingga suhu tetap 97 ◦C
|
11.2 Penentuan titik leleh
NO
|
Nama senyawa
|
Titik leleh
|
pelarutr
|
Mulai
|
tepat
|
1
|
Naftalen
|
78◦C
|
84◦C
|
Minyak
|
2
|
Glukosa
|
120◦C
|
140◦C
|
Minyak
|
3
|
Beta naftol
|
105◦C
|
115◦C
|
Minyak
|
4
|
Asam benzoat
|
98◦C
|
150◦C
|
Minyak
|
5
|
Maltosa
|
105◦C
|
107◦C
|
Minyak
|
Penentuan titik leleh campuran
No
|
Campuran 2 senyawa
|
Titik leleh (°c)
|
1:1
|
1:3
|
3:1
|
Mulai
|
tepat
|
mulai
|
tepat
|
mulai
|
tepat
|
1
|
Naftalen- glukosa
|
100 ◦C
|
148◦C
|
148◦C
|
155◦C
|
130◦C
|
146◦C
|
2
|
Beta naftol – asam benzoat
|
88 ◦C
|
92◦C
|
90◦C
|
103◦C
|
85◦C
|
120◦C
|
3
|
Glukosa –beta naftol
|
130 ◦C
|
140◦C
|
146◦C
|
150◦C
|
138◦C
|
149◦C
|
4
|
Asam benzoat-maltosa
|
110◦C
|
120◦C
|
100◦C
|
155◦C
|
97◦C
|
135◦C
|
5
|
Maltosa-naftalen
|
120◦C
|
122◦C
|
110◦C
|
114◦C
|
113◦C
|
115◦C
|
11.3 Demonstrasi titik leleh dengan MPA (melting point
apparatus)
NO
|
Nama senyawa
|
Titik leleh
|
Mulai
|
tepat
|
1
|
Naftalen
|
85C
|
100◦C
|
2
|
Glukosa
|
160,22◦C
|
180◦C
|
3
|
Beta naftol
|
110◦C
|
115◦C
|
4
|
Asam benzoat
|
115◦C
|
120◦C
|
5
|
Maltosa
|
90◦C
|
102◦C
|
XII PEMBAHASAN
12.1 Kalibrasi termometer
Alat yang digunakan untuk mengukur
suhu adalah termometer, untuk menentukan termometer itu masih bagus digunakan
adalah dengan dilakukannya kalibrasi terlebih dahulu agar nanti ketika mengukur
suhu data yang didapat memang benar benar valid, dalam percobaan kali
inipraktikan akan melakukakn kalibrasi terlebih dahulu terhadap termometer
laboratorium dengan menggunakan air suling dan es yang mana nantiharus didapat
hingga suhu 0 ◦C, alasan kami menggunaka air dan es karena titik
didih air tepat 100◦C sedangkan titik leleh es 0◦C.
Yang pertama kali dilakukan adalah
mencampur bubuk es batu yang telah dihancurkan dengan air kedalam labu
erlemeyer yang nantinya ditutupi rapat dengan busa disini kami menggunakan
sterofoam , agar terisolasi dan tidak ada sistem ataupun lingkungan yang keluar
masuk. Dengan begitu barulah termometer diletakkan untuk mengukur suhu tepan
sampe 0◦C, dan kami mendapatkannya. Selanjutnya kami melakukan
pengukuran terhadap didih air yang mana dengan dilakukan pemanasan dengan
bunsen dan kaki tiga hingga didapat suhu mulai mendidih 95◦C dan
suhu tetapnya 97◦C. Jadi disimpulkan sebelumkita mengukur suhu maka
kita harus melakukan kalibrasi termometer terlebih dahulu agar hasil yang
didapatkan benar benar valid.
12.2 Penentuan titik leleh
Selanjutnya percobaan penentuan
titik leleh yang mana padapercobaan ini kami menggunakan 5 sampel yaitu,
glukosa,naftalen,beta naftol, asam benzoat dan maltosa. Sebenarny kami
menggunakan alpha naftol tapi karena bahannya tidak terssedia maka kami menggunakan
beta naftol. Yang pertama dilakukan adalah menentukan titik leleh glukosa
dengan menggunakan pelarut minyak, menggunkaan minyak dikarenakan titik didih
minyak lebih tinggi daripada air. Titik leleh glukosa saat mulai meleleh yaitu
120 ◦C sedangkan titik akhir meleleh 140◦C. Selanjutnya
naftalen mulai meleleh yaitu 78 ◦C sedangkan titik akhir meleleh 84◦C,
Selanjutnya beta naftol mulai meleleh pada suhu 105 ◦C sedangkan
titik akhir meleleh 115◦C, lalu asam brnzoat mulai meleleh pada suhu
98◦C sedangkan titik akhir meleleh 150◦C, terakhir pada
maltosa mulai meleleh pada suhu 105◦C sedangkan titik akhir meleleh
107◦C. Terlihat dari hasil pengamatan kami yang paling cepat meleleh
itu adalah naftalen dengan suhu awal meleleh 78◦C.
Jika dibandingkan dengan literatur
itu naftalen titik lelehnya 88◦C, glukosa titik lelehnya 146◦C,
betha naftol titik lelehnya , asam benzoat titik lelehnya 122,6◦C
dan maltosa titik lelehnya 102◦C. Terlihaat hasil yang kami dapatkan
cukup berbeda dari literatur namun tidak jauh berbeda, hal ini bisa saja
disebabkan karena adanya zat pengganggu / zat asing dalam satu kisi yang
mengganggu struktur kristal senyawa murni secara keseluruhan, sehingga dapat
memperlambat ikatan ikatanya yang menyebabkan titik lelehnya kurang sesuai
dengan teori. Dalam penentuan titik leleh terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi nya yaitu, ukuran kristal, banyaknya sampel,adanya senyawa lain
yang mempengaruhi titik leleh,dan pemanasannya.
Selain itu kami juga melakukan
penentuan titik leleh dengan mencampurkan senyawa tadi dengan senyawa lain
dengan beberapa perbandingan yaitu 1:1, 1:3 dan 3:1. Yang pertama itu kami
mencampurkan naftalen dan glukosa dengan hasil 1:1 mulai meleleh 100◦C
titik akhir meleleh 148◦C, 1:3 mulai meleleh 148 ◦C titik
akhir meleleh 155◦C, 3:1 mulai meleleh 130 ◦C titik akhir
meleleh 146◦C. Selanjutnya kami mencampur betha naftol dan asam
benzoat dengan hasil 1:1 mulai meleleh 88◦C titik akhir meleleh 92◦C,
1:3 mulai meleleh 90 ◦C titik akhir meleleh 103◦C, 3:1
mulai meleleh 85◦C titik akhir meleleh 120◦C. Selanjutnya
kami mencampur glukosa dan betha naftol dengan hasil 1:1 mulai meleleh 130◦C
titik akhir meleleh 140◦C, 1:3 mulai meleleh 146◦C titik
akhir meleleh 150◦C, 3:1 mulai meleleh 138◦C titik akhir
meleleh 149◦C. Selanjutnya kami mencampur asam benzoat dan maltosa
dengan hasil 1:1 mulai meleleh 110◦C titik akhir meleleh 120◦C,
1:3 mulai meleleh 100◦C titik akhir meleleh 155◦C, 3:1
mulai meleleh 97◦C titik akhir meleleh 135◦C. Selanjutnya
kami mencampur maltosa dan naftalen dengan hasil 1:1 mulai meleleh 120◦C
titik akhir meleleh 122◦C, 1:3 mulai meleleh 110◦C titik
akhir meleleh 114◦C, 3:1 mulai meleleh 113◦C titik akhir
meleleh 114◦C. Dari data pengamatan yang cepat meleleh itu adalah
campuran betha naftol dan asam benzoat.
12.3 Demonstrasi penentuan titik leleh
dengan MPA
Pada percobaan ini semua praktikan
melakukan praktikum penentuan titik leleh menggunakan alat yang disebut MPA
(melting point apparatus) saat menggunkan alat iniyang pertma dilakukan adalah
memasukkan bahan yang akan diuji titik lelehnya (naftalen/glukosa/betha
naftol/asam benzoat /maltosa) lalu ujung
pipa kapiler ditutup kemarin kami menymbatnya dengan sterofoam yang berguna
untuk mencegah adanya pengaruh terhadap titik lelehnya. Kemudian diatur
kecepatan pemanas. Dan didapat hasil pada percobaan glukosa suhu awal
terjadinya pelelehan yaitu 160,22◦C dan suhu tetap melelehnya 180 ◦C.
Kemudian untuk naftalen didapat hasil pada percobaan glukosa suhu awal
terjadinya pelelehan yaitu 85 ◦C
dan suhu tetap melelehnya 100 ◦C.
untuk betha naftol didapat hasil pada percobaan glukosa suhu awal terjadinya
pelelehan yaitu 110◦C dan suhu
tetap melelehnya 115 ◦C. untuk asam
benzoat didapat hasil pada percobaan glukosa suhu awal terjadinya pelelehan
yaitu 115◦C dan suhu tetap
melelehnya 120 ◦C. Dan terakhir untuk
maltosa didapat hasil pada percobaan glukosa suhu awal terjadinya pelelehan
yaitu 90◦C dan suhu tetap
melelehnya 102 ◦C.
XIII PERTANYAAN PASCA
Videonya bisa dilihat pada link dibawah ini
1. mengapa saat mengukur suhu air dan es tabung erlemeyer harus ditutup dengan busa terlebih dahulu?
2. mengapa kita harus menggunakan pipa kapiler untuk penentuan titik leleh? apakah pipa kapiler dapat diganti dengan alat lain untuk menentukan titik leleh suatu senyawa?
3. mengapa kita menggunakan minyak pada saat penentuan titik leleh suatu senyawa?
XIV KESIMPULAN :
-Prinsip prinsip dasar penentuan titik leleh suatu
senyawa murni adalah ditentukan dari pengamata trayek lelehnya yang dimulai
saat mulai terjadi pelelehan , transisi padat-cair sampai seluruh kristal
mencair
-Kalibrasi termometer dilakukan untuk menentukan
standar pengukuran, keakuratan dari pengukuran,sehingga ketelitiannya sesuai
dengan standar yang ditetapkan
-Perbedaan antara titik leleh senyawa yang murni dan
senyawa campuran itu cukup berbeda yaitu untuk senyawa murni yaitu umumnya
memiliki titik leleh yang lebih tinggi dibandingkan dengan senyawa campuran.
Jika yang diujibukan senyawa murni maka akan terjadi penyimpangan titik
lelehnya.
-Penentuan titik leleh senyawa murni dapat dilakukan
dengan data pengamatan yang didapatkan yaitu:
-
Naftalen : 78 ◦C
-
Glukosa : 120 ◦C
-
Betha naftol: 105◦C
-
Asam benzoat: 98◦C
-
Maltosa : 105◦C
DAFTAR PUSTAKA
Cahyono,2010.Pemanfaatan limbah dari zat kotoran sapi.warnorojo surabaya:Jurnal kimia teknik lingkungan vol 4 no 1
Jamal, udin, 2007,kimia analitik kuantitatif. Jakarta .Erlangga
Surya,2005. penetapan metode dinamika molekul untuk pembelajaran .Jurnal penelitian. vol 1 no5
Tim kimia organik 1. 2016.penuntun praktikum kimia organik1. Jambi. Universitas Jambi
http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/02/26/70/
lampiran
saat pengambilan asam benzoat dan dimasukkandalam pipa kapiler
alat yang digunakan yaitu termometer
saat kalibrasi termometer
penimbangan asambenzoat
uji titik leleh