Saturday, February 22, 2020

JURNAL PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK 1
JURNAL PEMURNIAN ZAT PADAT


DIBUAT OLEH : SEPTIA MISCA DALVANNY
NIM: A1C118005
KELAS : REGULER A 2018
DOSEN PENGAMPU 
Dr.Drs. SYAMSURIZAL, M,Si

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI 
  2020
PERCOBAAN 3
I JUDUL : PEMURNIAN ZAT PADAT

II HARI/TANGGAL : RABU, 19 februari

III TUJUAN:
Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah:
-Praktikan diharapkan dapat melakukan kristalisasi dengan baik
- Praktikan diharapkan dapat memilih pelarut sesuai untuk re kristalisasi
- Praktikan diharapkan dapat menjernihkan dan menghilangkan warna larutan
- Praktikan diharapkan dapat memisahkan dan menguraikan campuran dengan rekristalisasi

IV  LANDASAN TEORI
Cara yang efektif untuk memurnikan zat padat adalah dengan cara rekristalisasi, cara rekristalisasi merupakancara kristalisasi secara selektif suatu senyawa dari campuran zat padat, yaitu dengan cara melarutkannya dengan pelarut yang cocok dengan titik didihnya , yang kemudian disaring selagi panas untuk memisahkan zat padat yang masih tersuspensi didalamnya. Prinsip yang digunakanpada rekristalisasi adalah bahwasenyawa tertentu yang ada dalamlarutan akanmemiliki sifat yang berbeda daricampuran itu dalam suatu sistem tertentu. Dalam praktek rekristalisasi sebaiknya menggunakan pelarut dengan jumlah yang sedikit sehingga didapat jumlah zat yang banyak yang dapat diperoleh kembali sewaktu proses pendinginan. Pelarut yang paling banyak digunakandalam rekristalisasi adalah pelarut cair karena mudah melarutkan zat organik dan tidak mahal (tim penuntun kimia organik I, 2016).

Rekristalisasi adalah salah satu cara pemurnian zat padat yang jamak yang digunakan saat zat zat padat itu dilarutkan dalam suatu pelarut yang kemudian dikristalkan kembali. Yang bergantung dnegan kelarutan zat tersebut dan diimbangi dengan suhu, sebab konsentrasi total akan lebih kecil dari konsentrasi zat yang dimurnikan (Arsyad, 2011)

Pada umum nya zat padat memiliki titik lebur yang tinggi sehingga zat padat amorf biasanya akan melunak dan dan melebur dalam suhu yang tinggi, namun pada kenyataanya partikel pada zat padat amorf itu  sulit untuk dipelaajari makanya lebih mudah mengamati partikel pada kristal. Jika dua kristal yang memiliki bentuk yang sama maka disebut dengan isomorfik (bentuknya sama) contohnya K2O4 dengan K2SeO4, dan Cr2O3 dengan Fe2O3. Namun zat isomorfik tidak selalu dapat mengkristal nbersama secara homogen artinya satu partikel tidak dapat menggantikan K+ dalam KCl walaupun kristal mereka sama. Suatu zat yang memilikidua kristal atau lebih disebut dengan polimorfik (banyak bentuk). Contohnya karbon dan belerang (syukri,2010).

Conteoh rekristalisasi adalah dengan pemurnian garam NaCl dengan yang menggunakan pelarut air,  larutan yang nantinya terbentuk dipisahkan satu sama lain kemudian dikristalisasi dengan cara penjenuhan. Yang mana ada 4 metodde untukmencapai larutan jenuh yaitu dengan mengubah temperatur, menguapkan solvent, reaksi kimia dan mengubah komposisi solvent.yang cocok untuk NaCl adalah penguapan solvent (Rositawati,2013).

V ALAT DAN BAHAN
ALAT
BAHAN
Gelas kimia
Air suling 50ml
Corong bucner
Asam benzoat 0,5 gram
Cawan penguap
Naftalen
Bunsen + kasa + kaki tiga

Prngaduk




VI PROSEDUR KERJA

6.1 Prosedur percobaan kristalisasi


 6.2 sublimasi

video praktikum dapat dilihat dibawah ini
https://www.youtube.com/watch?v=9mgvBbRkYSs&feature=youtu.be

pertanyaan
1. mengapa pada percobaan ini menggunakan zat pengotor yaitu pasir?
2. apa tanda utama kapur barus mulai menyublim?
3. apa yang akan terjadi jika pada percobaan ini kita tidak menggunakan es batu, apakah             berdampak terhadap hasil?











Monday, February 17, 2020

  LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK 1
  KALIBRASI TERMOMETER DAN PENENTUAN TITIK LELEH


DIBUAT OLEH : SEPTIA MISCA DALVANNY
NIM: A1C118005
KELAS : REGULER A 2018
DOSEN PENGAMPU 
Dr.Drs. SYAMSURIZAL, M,Si

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI 
  2020





VIII TUJUAN PENGAMATAN
ADAPUN TUJUAN DALAM PRAKTIKUM INI ADALAH:
  • Praktikan diharapkan dapat  memahami prinsip prinsip dasar dalam penentuan titik leleh senyawa murni.
  • Praktikan diharapkan dapat melakukan kalibrasi termometer sebelum digunakan untuk penentuan titik leleh suatu senyawa murni.    
  • Praktikan diharapkan dapat membedakan titik leleh suatu senyawa murni dengan senyawa yang tidak murni.
  •  Praktikan diharapkan dapat melakukan penentuan titik leleh suatu senyawa murni yang diberikan sebagai sampel.   

IX MANFAAT

  •  Dengan dilakukannya praktikum ini dapat menambah pengetahuan tentang titik leleh suatu senyawa
  • Dengan dilakukannya praktikum ini dapat memahami cara menggunakan alat MPA (melting point apparatus)
  • Dengan dilakukannya praktikum ini dapat memahami cara pengkalibrasian termometer dengan baik dan benar


X PROSEDUR
https://septiamisca2000.blogspot.com/2020/02/v-behaviorurldefaultvmlo.html


XI DATA PENGAMATAN


11.1 Kalibrasi termometer
No
perlakuan
Hasil
1
Dimasukkan termometer kedalam labu elemeyer yang telah diisi dengan air dan serbuk batu es yang mana labu elemeyer telah disumbat terlebih dahulu dengan penyumbat agar terisolasi
Skala termometer turun hingga 0 serajat
2
Aquades dimasukkan kedalam labu elemeyer yang telah disumbat lalu dipanaskan
Suhu awal 95C hingga suhu tetap 97 C

11.2 Penentuan titik leleh
NO

Nama senyawa
Titik leleh
pelarutr
Mulai
tepat
1
Naftalen
78C
84C
Minyak
2
Glukosa
120C
140C
Minyak
3
Beta naftol
105C
115C
Minyak
4
Asam benzoat
98C
150C
Minyak
5
Maltosa
105C
107C
Minyak

Penentuan titik leleh campuran
No
Campuran 2 senyawa
Titik leleh (°c)
1:1
1:3
3:1
Mulai
tepat
mulai
tepat
mulai
tepat
1
Naftalen- glukosa
100 C
148C
148C
155C
130C
146C
2
Beta naftol – asam benzoat
88 C
92C
90C
103C
85C
120C
3
Glukosa –beta naftol
130 C
140C
146C
150C
138C
149C
4
Asam benzoat-maltosa
110C
120C
100C
155C
97C
135C
5
Maltosa-naftalen
120C
122C
110C
114C
113C
115C




11.3 Demonstrasi titik leleh dengan MPA (melting point apparatus)
NO

Nama senyawa
Titik leleh
Mulai
tepat
1
Naftalen
85C
100◦C
2
Glukosa
160,22C
180C
3
Beta naftol
110◦C
115◦C
4
Asam benzoat
115◦C
120◦C
5
Maltosa
90◦C
102◦C


XII PEMBAHASAN

12.1 Kalibrasi termometer
        Alat yang digunakan untuk mengukur suhu adalah termometer, untuk menentukan termometer itu masih bagus digunakan adalah dengan dilakukannya kalibrasi terlebih dahulu agar nanti ketika mengukur suhu data yang didapat memang benar benar valid, dalam percobaan kali inipraktikan akan melakukakn kalibrasi terlebih dahulu terhadap termometer laboratorium dengan menggunakan air suling dan es yang mana nantiharus didapat hingga suhu 0 C, alasan kami menggunaka air dan es karena titik didih air tepat 100C sedangkan titik leleh es 0C.
        Yang pertama kali dilakukan adalah mencampur bubuk es batu yang telah dihancurkan dengan air kedalam labu erlemeyer yang nantinya ditutupi rapat dengan busa disini kami menggunakan sterofoam , agar terisolasi dan tidak ada sistem ataupun lingkungan yang keluar masuk. Dengan begitu barulah termometer diletakkan untuk mengukur suhu tepan sampe 0C, dan kami mendapatkannya. Selanjutnya kami melakukan pengukuran terhadap didih air yang mana dengan dilakukan pemanasan dengan bunsen dan kaki tiga hingga didapat suhu mulai mendidih 95C dan suhu tetapnya 97C. Jadi disimpulkan sebelumkita mengukur suhu maka kita harus melakukan kalibrasi termometer terlebih dahulu agar hasil yang didapatkan benar benar valid.

12.2 Penentuan titik leleh
        Selanjutnya percobaan penentuan titik leleh yang mana padapercobaan ini kami menggunakan 5 sampel yaitu, glukosa,naftalen,beta naftol, asam benzoat dan maltosa. Sebenarny kami menggunakan alpha naftol tapi karena bahannya tidak terssedia maka kami menggunakan beta naftol. Yang pertama dilakukan adalah menentukan titik leleh glukosa dengan menggunakan pelarut minyak, menggunkaan minyak dikarenakan titik didih minyak lebih tinggi daripada air. Titik leleh glukosa saat mulai meleleh yaitu 120 C sedangkan titik akhir meleleh 140C. Selanjutnya naftalen mulai meleleh yaitu 78 C sedangkan titik akhir meleleh 84C, Selanjutnya beta naftol mulai meleleh pada suhu 105 C sedangkan titik akhir meleleh 115C, lalu asam brnzoat mulai meleleh pada suhu 98C sedangkan titik akhir meleleh 150C, terakhir pada maltosa mulai meleleh pada suhu 105C sedangkan titik akhir meleleh 107C. Terlihat dari hasil pengamatan kami yang paling cepat meleleh itu adalah naftalen dengan suhu awal meleleh 78C.
        Jika dibandingkan dengan literatur itu naftalen titik lelehnya 88C, glukosa titik lelehnya 146C, betha naftol titik lelehnya , asam benzoat titik lelehnya 122,6C dan maltosa titik lelehnya 102C. Terlihaat hasil yang kami dapatkan cukup berbeda dari literatur namun tidak jauh berbeda, hal ini bisa saja disebabkan karena adanya zat pengganggu / zat asing dalam satu kisi yang mengganggu struktur kristal senyawa murni secara keseluruhan, sehingga dapat memperlambat ikatan ikatanya yang menyebabkan titik lelehnya kurang sesuai dengan teori. Dalam penentuan titik leleh terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi nya yaitu, ukuran kristal, banyaknya sampel,adanya senyawa lain yang mempengaruhi titik leleh,dan pemanasannya.
        Selain itu kami juga melakukan penentuan titik leleh dengan mencampurkan senyawa tadi dengan senyawa lain dengan beberapa perbandingan yaitu 1:1, 1:3 dan 3:1. Yang pertama itu kami mencampurkan naftalen dan glukosa dengan hasil 1:1 mulai meleleh 100C titik akhir meleleh 148C, 1:3 mulai meleleh 148 C titik akhir meleleh 155C, 3:1 mulai meleleh 130 C titik akhir meleleh 146C. Selanjutnya kami mencampur betha naftol dan asam benzoat dengan hasil 1:1 mulai meleleh 88C titik akhir meleleh 92C, 1:3 mulai meleleh 90 C titik akhir meleleh 103C, 3:1 mulai meleleh 85C titik akhir meleleh 120C. Selanjutnya kami mencampur glukosa dan betha naftol dengan hasil 1:1 mulai meleleh 130C titik akhir meleleh 140C, 1:3 mulai meleleh 146C titik akhir meleleh 150C, 3:1 mulai meleleh 138C titik akhir meleleh 149C. Selanjutnya kami mencampur asam benzoat dan maltosa dengan hasil 1:1 mulai meleleh 110C titik akhir meleleh 120C, 1:3 mulai meleleh 100C titik akhir meleleh 155C, 3:1 mulai meleleh 97C titik akhir meleleh 135C. Selanjutnya kami mencampur maltosa dan naftalen dengan hasil 1:1 mulai meleleh 120C titik akhir meleleh 122C, 1:3 mulai meleleh 110C titik akhir meleleh 114C, 3:1 mulai meleleh 113C titik akhir meleleh 114C. Dari data pengamatan yang cepat meleleh itu adalah campuran betha naftol dan asam benzoat.

12.3 Demonstrasi penentuan titik leleh dengan MPA
         Pada percobaan ini semua praktikan melakukan praktikum penentuan titik leleh menggunakan alat yang disebut MPA (melting point apparatus) saat menggunkan alat iniyang pertma dilakukan adalah memasukkan bahan yang akan diuji titik lelehnya (naftalen/glukosa/betha naftol/asam benzoat /maltosa)  lalu ujung pipa kapiler ditutup kemarin kami menymbatnya dengan sterofoam yang berguna untuk mencegah adanya pengaruh terhadap titik lelehnya. Kemudian diatur kecepatan pemanas. Dan didapat hasil pada percobaan glukosa suhu awal terjadinya pelelehan yaitu 160,22C dan suhu tetap melelehnya 180 C. Kemudian untuk naftalen didapat hasil pada percobaan glukosa suhu awal terjadinya pelelehan yaitu 85 C dan suhu tetap melelehnya 100 C. untuk betha naftol didapat hasil pada percobaan glukosa suhu awal terjadinya pelelehan yaitu 110C dan suhu tetap melelehnya 115 C. untuk asam benzoat didapat hasil pada percobaan glukosa suhu awal terjadinya pelelehan yaitu 115C dan suhu tetap melelehnya 120 C. Dan terakhir untuk maltosa didapat hasil pada percobaan glukosa suhu awal terjadinya pelelehan yaitu 90C dan suhu tetap melelehnya 102 C.



XIII PERTANYAAN PASCA

 Videonya bisa dilihat pada link dibawah ini

1. mengapa saat mengukur suhu air dan es tabung erlemeyer harus ditutup dengan busa terlebih dahulu?
2. mengapa kita harus menggunakan pipa kapiler untuk penentuan titik leleh? apakah pipa kapiler dapat diganti dengan alat lain untuk menentukan titik leleh suatu senyawa?
3. mengapa kita menggunakan minyak pada saat penentuan titik leleh suatu senyawa?

XIV KESIMPULAN :
 

 -Prinsip prinsip dasar penentuan titik leleh suatu senyawa murni adalah ditentukan dari pengamata trayek lelehnya yang dimulai saat mulai terjadi pelelehan , transisi padat-cair sampai seluruh kristal mencair



-Kalibrasi termometer dilakukan untuk menentukan standar pengukuran, keakuratan dari pengukuran,sehingga ketelitiannya sesuai dengan standar yang ditetapkan



-Perbedaan antara titik leleh senyawa yang murni dan senyawa campuran itu cukup berbeda yaitu untuk senyawa murni yaitu umumnya memiliki titik leleh yang lebih tinggi dibandingkan dengan senyawa campuran. Jika yang diujibukan senyawa murni maka akan terjadi penyimpangan titik lelehnya.



  -Penentuan titik leleh senyawa murni dapat dilakukan dengan data pengamatan yang didapatkan yaitu:

-          Naftalen : 78 C
-          Glukosa : 120 C
-          Betha naftol: 105C
-          Asam benzoat: 98C
-          Maltosa : 105C


DAFTAR PUSTAKA

 Cahyono,2010.Pemanfaatan limbah dari zat kotoran sapi.warnorojo surabaya:Jurnal kimia teknik lingkungan vol 4 no 1

Jamal, udin, 2007,kimia analitik kuantitatif. Jakarta .Erlangga

Surya,2005. penetapan metode dinamika molekul untuk pembelajaran .Jurnal penelitian. vol 1 no5

Tim kimia organik 1. 2016.penuntun praktikum kimia organik1. Jambi. Universitas Jambi

http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/02/26/70/

lampiran


saat pengambilan asam benzoat dan dimasukkandalam pipa kapiler


alat yang digunakan yaitu termometer
saat kalibrasi termometer
penimbangan asambenzoat
uji titik leleh